MAROS,iNews77.id — Keresahan petani di Desa Minasabaji, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, semakin memuncak. Di tengah berlangsungnya musim tanam IP 300, pasokan BBM jenis solar di SPBU Jawi-Jawi dengan nomor 74.905.01 disebut terhenti, sehingga aktivitas pertanian masyarakat ikut terganggu.

Kondisi tersebut membuat petani khawatir proses tanam tidak dapat berjalan sesuai jadwal. Pasalnya, sebagian petani mengandalkan solar untuk mengoperasikan mesin pompanisasi guna mengalirkan air ke persawahan.

Tak hanya pompanisasi, alat pertanian yang digunakan untuk membajak dan mengolah lahan juga ikut terdampak.

Pantauan di sejumlah titik persawahan menunjukkan beberapa mesin pompanisasi dan alat pertanian terlihat terparkir dan tidak beroperasi. Mesin yang seharusnya digunakan untuk menunjang proses pengolahan lahan justru tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal akibat terkendala bahan bakar.

Bagi petani, kondisi tersebut menjadi persoalan serius. Musim tanam terus berjalan, sementara kebutuhan air dan pengolahan lahan tidak bisa ditunda terlalu lama.

«“Sekarang rata-rata masyarakat atau petani di wilayah Desa Minasabaji menggunakan mesin pompanisasi solar. Sekarang solar di SPBU Jawi-Jawi sudah tidak ada. Kami masyarakat harus bagaimana lagi?” keluh salah seorang petani.»

Menurutnya, mesin pompanisasi sangat dibutuhkan karena sebagian lahan persawahan masyarakat bergantung pada pengairan menggunakan mesin tersebut.

Ketika solar tidak tersedia, mesin pompa tidak dapat beroperasi sehingga air tidak bisa dialirkan ke sawah.

Jika pasokan solar tidak segera kembali normal, mereka khawatir keterlambatan pengolahan lahan dan pengairan akan berdampak terhadap jadwal tanam hingga berujung pada ancaman gagal tanam.

“Harapan kami SPBU Jawi-Jawi segera dibuka kembali untuk pengisian solar. Kasihan kami para petani. Kami membutuhkan solar untuk menghidupkan mesin pompa agar sawah kami bisa mendapatkan air,” harapnya.

Petani juga meminta Pemerintah Kabupaten Maros, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan hingga pemerintah pusat turun tangan mencarikan solusi.

«“Kami berharap pemerintah daerah, provinsi dan pusat segera mencarikan solusi. Solar di SPBU Jawi-Jawi harus kembali tersedia karena ini menyangkut kebutuhan kami para petani,” ujarnya.»

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Damai, Zainuddin, menegaskan bahwa keresahan petani sudah semakin serius.

Ia menyebut, petani tidak ingin persoalan pasokan solar dibiarkan berlarut-larut hingga mengganggu musim tanam.

Bahkan, Zainuddin menyatakan akan turun melakukan aksi demonstrasi bersama warga apabila dalam waktu dekat pasokan solar belum juga dikirim ke SPBU Jawi-Jawi.

«“Apabila dalam waktu dekat pasokan BBM solar ke SPBU Jawi-Jawi tidak dikirim, maka saya bersama warga lainnya akan turun melakukan demonstrasi. Karena kalau kondisi ini terus berlanjut, kami bakal gagal tanam,” tegasnya.»

Menurut Zainuddin, solar bagi petani bukan hanya kebutuhan untuk kendaraan, tetapi menjadi bahan bakar utama untuk menjalankan mesin pompanisasi dan alat pertanian.

Para petani berharap pihak Pertamina bersama pemerintah segera mengambil langkah konkret agar pasokan solar kembali tersedia.

Mereka tidak ingin mesin-mesin pertanian terus terparkir sementara musim tanam terus berjalan.

Bagi petani Minasabaji, persoalan solar kini bukan sekadar soal BBM, tetapi menyangkut air untuk sawah, keberlangsungan musim tanam, dan sumber penghidupan mereka.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari PT Pertamina Patra Niaga terkait alasan penghentian sementara pasokan solar di SPBU Jawi-Jawi.