Tanah Datar, inews77.id – Direktorat Fesyen, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekonomi Kreatif RI/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menggelar Workshop Teknis Fesyen Ready to Wear dalam rangka aktivasi Desa Kreatif yang berlangsung di Baruah Pasar Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Selasa 27 Oktober 2026.
“Tenun Pandai Sikek bukan sekadar produk kerajinan, melainkan identitas budaya dan warisan keterampilan masyarakat yang harus kita jaga dan kembangkan. Melalui workshop teknis fesyen ready to wear, kita ingin mendorong lahirnya produk fesyen yang inovatif, modern, dan memiliki nilai tambah tanpa kehilangan kekhasan motif serta kearifan lokal,” ujar Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata, Riza Anggraini, S.T., M.Par., dalam sambutannya.
Riza juga mengatakan bahwa program ini menjadi kunci untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan dari level desa, dengan fokus pada peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) kreatif.
Workshop ini menyasar 40 orang peserta yang terdiri dari pelaku fesyen pemula, mahasiswa tata busana, desain mode, dan desain produk, serta komunitas kreatif desa termasuk para penjahit lokal yang ingin merintis usaha fesyen.
Tujuan utama workshop adalah mendorong pelaku fesyen pemula mampu mengubah potensi lokal menjadi produk unggulan. Peserta akan dibekali kemampuan teknis lengkap, mulai dari pemilihan bahan, perbaikan motif dan pola, hingga proses produksi menjadi item fesyen yang kreatif, berkualitas, dan memiliki identitas merek yang siap masuk pasar.
Kegiatan yang dipandu langsung oleh mentor profesional yang merupakan desainer dan akademisi Tata Busana.
Nantinya, mentor akan memberikan pelatihan praktis pembuatan produk ready to wear bernilai jual tinggi dari bahan sisa kain atau kain perca sebagai wujud prinsip fesyen berkelanjutan (sustainable fashion).
Dua produk utama yang akan diajarkan adalah:
1. Vest/Rompi Sederhana
Peserta akan belajar fungsi vest sebagai pelengkap busana, pengenalan pola, teknik pemotongan, penyambungan, hingga finishing tepi dan lubang lengan.
2. Kreasi Aksesori Fesyen
Pembuatan produk pelengkap seperti scrunchie, ikat kepala, dan bros dengan kombinasi warna dan motif menarik yang berkarakter lokal.
Selain keterampilan teknis, peserta juga akan mendapatkan materi penting tentang pengembangan desain berbasis wastra dan potensi daerah, menjaga kualitas produk, hingga strategi pengemasan, penentuan harga, dan peluang pemasaran online dan offline.
”Melalui kegiatan ini, kami berharap pelaku kreatif di desa atau nagari tidak hanya bisa menjahit, tapi mampu menciptakan jenama fesyen yang inovatif, bernilai tambah, dan berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan menjadi produk ekonomi kreatif unggulan daerah,” ujar perwakilan Direktorat Fesyen.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam melahirkan wirausaha fesyen baru dari desa yang mampu bersaing di pasar nasional.
(spy/cn)


