PADANG iNews77.id Wakil Bupati Pasaman Barat, M. Ihpan, menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat Triwulan I Tahun 2026 yang digelar di Aula Anggun Nan Tongga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Kamis (22/1/2026)

Pertemuan strategis ini menjadi wadah koordinasi antar daerah dalam menghadapi tantangan pengendalian inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Selain itu, forum juga membahas upaya pemulihan ketahanan pangan pasca bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat sepanjang tahun 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati M. Ihpan menyampaikan paparan komprehensif mengenai kondisi Kabupaten Pasaman Barat pasca bencana alam. Ia menekankan bahwa seluruh kecamatan di Pasaman Barat terdampak, sehingga berimplikasi besar terhadap perekonomian daerah, khususnya sektor pangan dan inflasi.

Kabupaten Pasaman Barat, dengan luas wilayah 3.864,02 kilometer persegi dan jumlah penduduk mencapai 457.803 jiwa pada Semester I 2025, mengalami kerusakan signifikan. Data per 29 Desember 2025 mencatat sekitar 1.005 hektare lahan pertanian dan 12.071,5 hektare lahan perkebunan terdampak bencana.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai Rp51,36 miliar. Angka terbesar berasal dari subsektor pertanian dengan nilai Rp47,27 miliar, meliputi kerusakan sawah seluas 522 hektare di 10 kecamatan serta lahan jagung seluas 81 hektare di enam kecamatan. Infrastruktur pertanian juga turut rusak.

Subsektor perikanan tidak luput dari dampak. Sekitar 20 ton ikan siap panen hanyut dari lahan budidaya seluas tiga hektare, menimbulkan kerugian sekitar Rp2 miliar. Sementara subsektor peternakan mencatat kerugian Rp281,5 juta akibat ternak kambing tertimbun longsor serta kerbau dan sapi yang hanyut terbawa arus.

Kerugian juga terjadi di sektor perdagangan dan UMKM. Satu los pasar di Kecamatan Ranah Batahan rusak dengan nilai kerugian Rp140 juta. Selain itu, sebanyak 636 unit kios di lima kecamatan dan tujuh nagari terdampak, dengan total kerugian mencapai Rp1,66 miliar.

Dampak bencana tersebut berimbas langsung pada laju inflasi daerah. M. Ihpan menyoroti lonjakan harga komoditas pangan pada Desember 2025. Cabai merah naik hingga 46,67 persen, cabai rawit 45 persen, bawang merah 38 persen, daging ayam 14 persen, dan telur ayam 24 persen. Sementara harga beras relatif stabil.

“Pada Desember 2025, inflasi year on year Kabupaten Pasaman Barat mencapai 7,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 115,17. Ini merupakan angka tertinggi sejak Pasaman Barat menjadi daerah IHK di Sumatera Barat,” ungkapnya.

Menurutnya, tingginya inflasi dipicu curah hujan ekstrem sejak September hingga November 2025 yang menyebabkan banjir hampir di seluruh kecamatan. Kondisi ini memperparah situasi karena Pasaman Barat merupakan daerah konsumen pangan yang sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Melalui HLM TPID, Wakil Bupati berharap adanya sinergi kuat antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam menjaga stabilitas harga, kelancaran distribusi pangan, serta percepatan pemulihan ekonomi dan ketahanan pangan pasca bencana. “Hal-hal inilah yang menjadi penyebab utama tingginya inflasi di Kabupaten Pasaman Barat pasca bencana alam,” tutup M. Ihpan.(Ronipasbar Roni)