BONJOl. PASAMAN SUMBAR iNews77.id Tradisi “pulang marantau” kembali menghadirkan kisah haru di Ranah Minang. Setelah puluhan tahun, kerinduan itu akhirnya terbayarkan dengan kepulangan Rano Karno ke Bonjol, Kabupaten Pasaman, Selasa (14/4/2026). Sosok legendaris yang akrab disapa “Si Doel” ini disambut meriah oleh ribuan masyarakat yang telah lama menantikan momen tersebut.
Suasana hangat dan penuh haru terasa sejak pagi hari. Warga dari berbagai kejorongan dan nagari memadati kawasan Tugu Equator Bonjol yang berdekatan dengan Museum Tuanku Imam Bonjol. Lokasi ini menjadi pusat penyambutan kepulangan “anak rantau” ke kampung halamannya.
Meski bukan kunjungan pertama melainkan yang ketiga kalinya, antusiasme masyarakat tidak surut. Rano Karno tiba sekitar pukul 09.30 WIB bersama istrinya, Dewi Karno, serta rombongan keluarga.
Sejak pukul 08.00 WIB, warga telah memadati lokasi, berharap dapat melihat langsung sosok yang telah lama menjadi kebanggaan mereka.
Salah seorang warga, Toni (36), mengaku rela datang lebih awal demi menyambut kedatangan idolanya. “Kami sudah menunggu sejak pukul 08.00 WIB, karena informasinya beliau akan tiba sekitar pukul 09.30 WIB,” ujarnya.
Rombongan sebelumnya bertolak dari Bukittinggi usai menghadiri agenda kerja sama di Pariaman bersama Vasco Ruseimy dan pemerintah daerah setempat. Kepulangan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara keluarga besar, pemerintah daerah, dan masyarakat Bonjol.
Penyambutan dilakukan secara adat melalui Tari Pasambahan yang dipimpin langsung oleh Bupati Pasaman, Welly Suhery, bersama jajaran Forkopimda.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan rasa bangga dan haru atas kepulangan tokoh nasional berdarah Bonjol tersebut.
“Selamat datang di Ranah Pasaman tercinta, di Bonjol kota pahlawan nan legendaris. Ini adalah kampung halaman tokoh kami, tempat sejarah perjuangan besar pernah lahir,” ujar Welly Suhery.
Menurutnya, penyambutan meriah ini merupakan wujud kerinduan sekaligus kebanggaan masyarakat terhadap sosok Rano Karno yang telah mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.
Ia juga berharap ke depan, Rano Karno dapat berkontribusi dalam pembangunan daerah, termasuk mempromosikan potensi wisata seperti kawasan equator dan planetarium Bonjol.
Sementara itu, Rano Karno mengaku terharu atas sambutan luar biasa yang diberikan masyarakat. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah daerah dan seluruh warga yang telah menyambutnya dengan penuh kehangatan.
“Terima kasih atas sambutan yang luar biasa ini. Saya sangat terharu dan bangga bisa kembali ke kampung halaman,” ungkapnya.
Ia juga membuka peluang kerja sama antara daerah dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Menurutnya, potensi hasil pertanian Pasaman sangat besar untuk dikembangkan sebagai pemasok kebutuhan pangan ibu kota.
Kunjungan ini juga memiliki makna pribadi bagi Rano Karno. Ia menyebut kedatangannya merupakan amanah dari almarhum ibundanya untuk menjaga silsilah keluarga agar tidak terputus. “Ini bagian dari sejarah keluarga yang harus saya jaga,” tuturnya.
Selama berada di Bonjol, Rano Karno dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda, seperti peletakan batu pertama pembangunan rumah keluarga, ziarah ke makam leluhur, kunjungan ke Museum Tuanku Imam Bonjol, hingga mengikuti tradisi makan bajamba di rumah pusaka keluarga di Kampuang Jambak.
Selain itu, dalam rangkaian acara penyambutan, Rano Karno juga menyerahkan bantuan berupa seminar kit kepada lima pelajar serta menerima sertifikat simbolis telah melintasi garis nol derajat khatulistiwa.
Acara ditutup dengan pertukaran cinderamata antara Pemerintah Kabupaten Pasaman dan rombongan dari DKI Jakarta.
Kehadiran Rano Karno di Bonjol tidak hanya menjadi momen pelepas rindu, tetapi juga diharapkan menjadi awal kolaborasi dan semangat baru bagi kemajuan Kabupaten Pasaman di masa mendatang. (tim)
(Ronipasbar Roni)


