
INews77.id, Panyalaian (Sumbar) — Senator Republik Indonesia, H. Jelita Donal, Lc., menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI pada Ahad, 14 Desember 2025, pukul 07.30 WIB. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Mujahidin, kompleks Pesantren Daarul Muwahhidiin, Nagari Panyalaian, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.
Sosialisasi ini diikuti oleh Kepala Sekolah MA Daarul Muwahhidiin, Doni Rinaldo, M.Pd., para pembina asrama, serta santri kelas XII.
Kegiatan bertujuan menanamkan pemahaman kebangsaan kepada generasi muda, khususnya santri sebagai calon pemimpin masa depan.
Dalam pemaparannya, Jelita Donal menegaskan bahwa Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus terus disosialisasikan secara berkelanjutan.
“Pemahaman Empat Pilar ini kembali ditanamkan kepada para santri kelas XII Daarul Muwahhidiin Panyalaian. Mustahil sebuah generasi memiliki kecintaan kepada negaranya tanpa mengenal dan memahami ketinggian nilai-nilai luhur bangsanya,” ujar Jelita Donal.
Ia mengingatkan bahwa derasnya arus globalisasi dan perkembangan informasi dapat memengaruhi pola pikir generasi muda. Tanpa penguatan nilai kebangsaan, para santri berpotensi kehilangan jati diri dan justru lebih mengagungkan bangsa lain dibanding bangsanya sendiri.
Menurutnya, penanaman Empat Pilar MPR RI menjadi penyempurna pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) yang diperoleh di bangku sekolah. Dengan pemahaman yang utuh, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan ideologis.
“Dari para santri inilah diharapkan muncul pemimpin-pemimpin teladan yang mampu membawa Indonesia menuju kejayaan di masa depan,” tambahnya.
Pada sesi tanya jawab, para santri menyampaikan sejumlah aspirasi kritis. Salah satu pertanyaan yang mencuat adalah mengenai langkah konkret yang dapat dilakukan agar praktik korupsi di Indonesia dapat diberantas hingga ke akar-akarnya.
Selain itu, santri juga mempertanyakan kemungkinan terwujudnya pendidikan dan layanan kesehatan gratis bagi pribumi, mengingat kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan penuh antusias dan menjadi ruang dialog konstruktif antara wakil rakyat dan generasi muda pesantren.
(Charles Nasution)


