KUANSING –inews77.id -20 Agustus 2025, Lapangan sepak bola RMKK di Kenegerian Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, mendadak menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata pada Rabu (20/8/2025) pagi. Suara baling-baling helikopter terdengar bergemuruh di angkasa, menandai kedatangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia beserta rombongan. Kehadiran pejabat tinggi negara ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan untuk menghadiri sekaligus membuka secara resmi ajang budaya terbesar di bumi Lancang Kuning: Pacu Jalur Tradisional Tepian Narosa Teluk Kuantan 2025.
Kedatangan Disambut Meriah
Sejak pagi, masyarakat Kuansing sudah memadati sekitar lapangan. Bendera Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni berkibar di sepanjang jalan, menyambut rombongan tamu kehormatan. Begitu helikopter mendarat, para tokoh adat, pemuka masyarakat, Bupati Kuantan Singingi, serta jajaran Forkopimda langsung menyambut dengan prosesi adat tepuk tepung tawar – simbol penghormatan sekaligus doa agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Warga dari berbagai penjuru desa tampak antusias. Mereka rela berdesak-desakan demi menyaksikan secara langsung momen bersejarah ini. Suasana penuh semangat dan haru semakin terasa ketika anak-anak sekolah membawa bunga tangan, sementara kelompok kesenian tradisional menampilkan tarian khas Melayu Kuantan Singingi.
Pesan Menteri: Pacu Jalur Adalah Warisan Dunia.
Dalam sambutannya, Menteri Pariwisata menegaskan bahwa Pacu Jalur bukan sekadar lomba perahu panjang, melainkan simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya masyarakat Kuantan Singingi.
Pacu Jalur telah diakui sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia. Tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Riau, tetapi juga telah menjadi aset bangsa di mata dunia. Pemerintah pusat berkomitmen mendukung penuh agar Pacu Jalur terus berkembang, menjadi magnet wisata, serta memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan meriah ribuan pengunjung.
Menteri juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian tradisi. Menurutnya, festival budaya semacam ini harus dirawat bukan hanya sebagai tontonan tahunan, tetapi juga sebagai ruang edukasi generasi muda tentang nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan cinta tanah air.
Magnet Pariwisata Riau
Pacu Jalur, yang digelar di Tepian Narosa Teluk Kuantan, memang selalu menjadi daya tarik luar biasa setiap tahunnya. Ratusan ribu wisatawan lokal maupun mancanegara biasanya datang menyaksikan perhelatan yang sudah berusia lebih dari seabad ini. Selain lomba perahu tradisional yang melibatkan puluhan jalur (sebutan untuk perahu), pengunjung juga dimanjakan dengan pameran UMKM, bazar kuliner khas Kuansing, serta pertunjukan seni budaya Melayu.
Bupati Kuantan Singingi dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas dukungan pemerintah pusat. “Kehadiran Ibu Menteri adalah bukti nyata bahwa Pacu Jalur memiliki tempat istimewa di hati bangsa. Kami berharap kegiatan ini terus memberi manfaat ekonomi, menggerakkan UMKM, dan memperkuat identitas Kuansing sebagai daerah wisata budaya unggulan,” ujarnya.
Ekonomi Rakyat Bergeliat
Kegiatan Pacu Jalur terbukti memberi multiplier effect yang signifikan. Hotel, penginapan, rumah makan, pedagang kaki lima, hingga transportasi lokal mengalami lonjakan permintaan. Masyarakat pun merasakan berkah dari perhelatan akbar ini.
Salah seorang pedagang sate di sekitar arena, Ibu Yanti (45), mengaku omzetnya bisa meningkat hingga tiga kali lipat. “Alhamdulillah, Pacu Jalur memang selalu jadi berkah bagi kami. Ramai orang datang dari Pekanbaru, Jambi, bahkan dari negeri jiran Malaysia. Mudah-mudahan pemerintah terus mendukung acara ini,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Simbol Persatuan dan Sportivitas
Di balik hiruk-pikuk dan kemeriahan, Pacu Jalur menyimpan filosofi mendalam. Perahu panjang yang bisa mencapai 30–40 meter digerakkan oleh puluhan hingga seratus orang pendayung. Mereka harus bergerak serentak, seirama, penuh koordinasi, agar perahu melaju kencang menuju garis finis. Filosofi ini mencerminkan semangat kebersamaan: kerja sama dan kesatuan adalah kunci kemenangan.
Bagi masyarakat Kuansing, membangun jalur bukan sekadar membuat perahu. Ia adalah karya seni, kebanggaan desa, dan simbol identitas yang diwariskan turun-temurun. Tak heran, setiap desa rela bergotong royong berminggu-minggu untuk menyiapkan jalur terbaik yang akan bertarung di Tepian Narosa.
Penutup: Dari Kuansing untuk Indonesia
Dengan dibukanya secara resmi Pacu Jalur 2025 oleh Menteri Pariwisata, maka resmilah dimulai perhelatan budaya yang ditunggu-tunggu masyarakat Riau dan sekitarnya. Dentuman bedil meriam sebagai tanda dimulainya pacu, sorak-sorai ribuan penonton, dan semangat juang para pendayung di sungai Kuantan menjadi saksi betapa tradisi ini tetap hidup, lestari, dan membanggakan.
Pacu Jalur bukan hanya milik Kuansing, bukan hanya milik Riau, tetapi milik seluruh Indonesia. Dari tepian Sungai Kuantan, pesan kebersamaan, sportivitas, dan cinta budaya terus digaungkan – menjadi energi baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif nasional.tutupnya (Shinta)


